Sabtu, 08 Agustus 2015

Riwayat Hidup Nabi Muhammad

Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW 
          Nabi Muhammad SAW adalah anak Abdullah bin Abdul Muttalib, Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kedua orang tuanya itu berasal dari suku Quraisy yang terpandang dan mulia. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awwal tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi.
           Ketika Nabi Muhammad SAW masih di dalam kandungan ibunya, Abdullah ayahnya pergi ke negeri Syam (Siria) untuk berdagang. Tetapi sepulang dari sana, ketika sampai di kota Madinah, ia menderita sakit dan wafat dalam usia 18 tahun. Abdullah dimakamkan di kota Madinah. Maka, Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia dalam keadaan yatim, di tengah-tengah masyarakat jahiliyah penyembahan berhala, penindas kaum lemah, perampas hak orang, dan bahkan membunuh kaum wanita.
           Sudah menjadi adat bangsa Arab ketika itu, bahwa bayi seseorang disusukan kepada wanita lain. Begitu pula halnya Nabi Muhammad SAW, Beliau disusukan kepada seseorang wanita dusun bernama Halimah As-Sa'diyah. Empat Tahun lamanya beliau tinggal di dusun Bani Sa'ad bersama ibu susunya itu. Selama memelihara Nabi Muhammad, keluarga Halimah As Sa'diyah memperoleh limpahan rezeki dari ALLAH SWT sebagai berkah.
             Menjelang usia lima tahun, Halimah As-Sa'diyah mengembalikan Nabi Muhammad SAW kepada ibunya, karena telah terjadi peristiwa atas anak asuhnya itu yang mencemaskan hatinya. Maka segera ia bawa Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkkah.
             Siti Aminah amat setia terhadap suaminya. Sering kali ia bersama anaknya pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam suaminya, sekaligus bersilaturahmi kepada keluarganya, Bani Najjar disana.
              Suatu kali, dalam perjalanan pulang dari Madinah, seusai berziarah, Siti Aminah jatuh sakit di desa Abwa' (antara Makkah dan Madinah). Beberapa saat kemudian, ia wafat disana, meninggalkan Nabi Muhammad SAW yang ketika itu baru berusia 6 tahun.  Maka jadilah Nabi Muhammad SAW yatim piatu.
              Bersama Ummu Aiman, pembantunya, Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah. Beliau kemudian dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muttalib hingga menjelang 9 tahun                      
             Selama tiga tahun bersama kakeknya, Nabi Muhammad SAW akhirnya dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib, karena kakeknya itu meninggal dunia. Abu Thalib adalah seorang sesepuh Quraisy yang disegani oleh kaumnya. Meskipun demikian, dia bukanlah tergolong orang yang kaya. Abu Thalib hanyalah seorang pedagang biasa yang sering merantau ke negeri Syam bersama serombongan kafilah dagangnya.
               Ketika berusia 12 tahun, Nabi Muhammad SAW diajak oleh pamannya itu pergi berdagang ke Syam. Sampai di suatu dusun perbatasan Syam, Abu Thalib bersama keponakannya itu singgah di rumah seorang pendeta Nasrani yang saleh, bernama Bahira. Dari kitab Taurat dan Injil yang dipelajarinya, pendeta Bahira dapat mengetahui ciri-ciri kenabian yang ada pada diri Nabi Muhammad yang masih kecil itu. Maka, dengan berta-merta, pendeta Bahira memberitahukan hal itu kepada Abu Thalib seraya berkata: "Wahai saudaraku, sesungguhnya anakmu ini adalah manusia pilihan ALLAH, calon pemimpin umat manusia di dunia ini. Maka jagalah ia baik-baik. Bawalah ia kembali, sebab aku khawatir ia diganggu oleh orang Yahudi di negeri Syam. Bahkan, jika sekiranya kaum Yahudi itu mengetahui bahwa ia adalah calon Rasul ALLAH, maka tentulah ia akan membunuhnya". Maka pulanglah Abu Thalib ke Makkah bersama Nabi Muhammad SAW, sebelum mereka sampai ke negeri Syam.

               Setelah Nabi Muhammad SAW berusia hampir 25 tahun, Abu Thalib merasa bahwa keponakannya itu telah cukup dewasa. Maka dipanggilnya Nabi Muhammad, lalu ditawarkanlah kepadanya suatu pekerjaan yang menguntungkan, seraya berkata: "Wahai anakku, sesungguhnya kita bukanlah keluarga yang berkecukupan. Bahkan, kurasakan akhir-akhir ini kebutuhan kita semakin sulit didapat. Alangkah baiknya jika engkau pergi kepada Khadijah untuk meminta izinnya membawa barang-barang dagangannya ke negeri Syam. Mudah-mudahan dari usaha itu engkau akan memperoleh keuntungan yang besar."
              Nabi Muhammad SAW menyetujui usul pamannya, sebab beliau memaklumi sepenuhnya akan kesulitan yang dihadapi pamanya itu dalam menanggung beban belanja rumah tangganya. Segera beliau pergi kepada Siti Khadijah untuk meminta izinnya memperdagangkan barang-barangnya. Siti Khadijah adalah seorang janda yang kaya di Makkah. Ia dikenal sebagai wanita Quraisy yang mulia kerena keturunan dan akhlaknya. Ia adalah wanita budiman, gemar membantu sesamanya, dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya, sehingga mendapat gelar At-Thahirah (Wanita Suci).  
              Menanggapi permohonan Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah tanpa pikir panjang langsung menyambutnya dengan senang hati, karena ia telah cukup mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai pemuda yang ramah, jujur, dan sopan santun. Maka berangkatlah Nabi Muhammad SAW ke negeri Syam, ditemani oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Pulang dari Syam, Nabi Muhammad memperoleh keuntungan amat besar, yang belum pernah dicapai oleh para pedagang lain. Siti Khadijah amat kagum terhadap pemuda Muhammad. Lebih-lebih ketika ia mendengar sendiri dari Maisarah, bagaimana agungnya perangai Nabi Muhammad selama di perjalanan maupun ketika berdagang. Maka berubahlah rasa kagum itu menjadi rasa cinta.
            Hubungan perdagangan antara Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah akhirnya diteruskan ke jenjang perkawinan. Rupanya ALLAH SWT menghendaki demikian, karena ada banyak hikmah dibalik itu. Dalam suatu upacara yang sederhana, dilangsungkan akad nikah antara keduanya, suatu pernikahan yang telah menoreh lembaran sejarah Islam. Ketika itu, Nabi Muhammad SAW berusia 25 tahun, sementara Siti Khadijah telah berusia 40 tahun. Perkawinan itu membuahkan empat anak putri dan dua orang putra, masing-masing Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah, Qasim dan Abdullah. Tetapi atas kehendak ALLAH SWT, kedua anak laki-laki beliau wafat ketika masih kanak-kanak.
               Ketika Nabi Muhammad berusia 35 tahun, di Makkah terjadi bencana banjir sehingga merusakkan sebagian dinding Ka'bah. Setelah usai bencana, kaum Quraisy beramai-ramai memperbaiki dinding Ka'bah yang runtuh itu. Pada saat pekerjaan telah selesai, dan tinggal Hajar Al- Aswad (Batu Hitam) yang mesti dikembalikan di tempat semula, terjadilah perselisihan diantara mereka. Masing-masing suku ingin memperoleh kehormatan dengan meletakkan Hajar al-Aswad itu ditempatnya. Hampir saja terjadi pertumpahan darah diantara mereka. Tetapi, tiba-tiba salah seorang berkata: "Wahai kaumku, janganlah kalian saling bermusuhan karena ini. Sebaiknya kita tunggu saja esok pagi, siapa yang pertama kali datang ke pintu Masjid ini, dialah yang berhak mengambil keputusan."
               Pagi-pagi keesokan harinya, kaum Quraisy mendapati bahwa orang yang pertama kali masuk ke pintu Masjid adalah Nabi Muhammad SAW. Maka bersoraklah mereka menyambutnya, karenan mereka yakin akan kejujuran pemuda Muhammad SAW sebagai  hakim yang memutuskan perkara Hajar al-Aswad itu. Nabi Muhammad Kemudian menggelarkan kain surbannya di atas tanah dan meletakkan Hajar al-Aswad di atasnya. Lalu, kepada masing-masing kepala suku, beliau memerintahkan untuk memegang tiap-tiap ujung kain itu dan mengangkatnya. Sampai diatas, beliau lalu mengangkat batu suci itu dengan tangannya sendiri, dan meletakkannya di tempatnya semula. Dengan cara itu, seluruh kaum Quraisy merasa puas, dan berseru: "Kami rela atas keputusan yang dibuat oleh orang yang dipercaya ini!". Sejak itu, Nabi Muhammad SAW mendapat gelar "Al-Amin" artinya "Yang Dipercaya".

               Pada usia 40 tahun, Muhammad sering bertahanus di Goa Hira, yaitu mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, Tepat pada tanggal 1-17 madhan datanglah malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama, kemudia Jibril membacakan surat Al-Alaq ayat 1-5, sesudah itu beliau pulang kerumah dengan tubuh gemetar dan disambut oleh istrinya Khadijah, lalu Khadijah pergi berkonsultasi dengan anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal. Waraqah memberitahukan bahwa yang datang kepada Nabi Muhammad itu adalah Jibril yang pernah datang kepada Musa. Jadi Muhammad akan diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul.
               Sesudah wahyu yang pertama selama dua setengah tahun Rasulullah tidak pernah mendapat wahyu lagi. Ia kuatir akan terputus, maka menyepi lagia beliau ke Goa Hira, ketika ia menengadah ke langit tampaklah malaikat Jibril. Ia ketakutan lalu pulang kerumah  dan meminta Khadijah supaya diselimuti, dalam keadaan berselimut itu datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang kedua melalui surat Al-Muddatsir: 1-7. Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa Muhammad diperintahkan menyampaikan Risalah-Nya. Yaitu menyembah ALLAH Yang Maha Esa.
                Yang pertama kali diajak memeluk Islam adalah keluarganya sendiri dan orang-orang yang dekat dengannya. Pertama yaitu istrinya Khadijah, kedua Ali bin Abi Thalib, lalu Zaid bin Haritsah, setelah itu beliau mengajak teman akrabnya yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan berimannya Abu Bakar maka banyaklah orang-orang yang kemudian mengikutinya.
                 Pada usia 53 tahun Rasulullah mulai berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Saidina Abu Bakar Ash-Siddiq, kemudia beliau sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiul awal / 24 September 622 M.
                 Pada waktu beliau berusia 63 tahun beliau wafat di Madinah Al-Munawwarah pada hari senin, 12 Rabiul awal tahun 11 H / 8 Juni 632 M, dimakamkan di kota Madinah.
                 Sebelumnya, beliau sempat berpesan kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruh kaum muslimin dengan sabdanya yang termasyhur;
"Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila kalian  berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yakni Kitabullah (Al-Qu'an) dan Sunnah Rasul-Nya".

      Istri-Istri Rasulullah SAW yaitu :
  1. Khadijah Binti Khuwailid
  2. Saudah Binti Zam'ah
  3. Aisyah Binti Abu Bakar (anak Saidina Abu Bakar As-Siddiq)
  4. Hafsah binti Umar (anak Saidina Umar bin Khattab)
  5. Ummi Habibah binti Abu Sufyan
  6. Hindun binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah)
  7. Zainab binti Jahsy
  8. Maimunah binti Harith
  9. Safiyah binti Huyain bin Akhtab
  10. Zainab binti Khuzaimah (digelar Ummu Al- Masakin / Ibu Orang Miskin) 
    Anak-anak Rasulullah SAW :
  1. Qasim
  2. Abdullah
  3. Ibrahim
  4. Zainab
  5. Ruqaiyah
  6. Ummi Kalthum
  7. Fatimah Az-Zahra